AMANAT BUNG KARNO BAG.IV

AMANAT BUNG KARNO
BAG.IV



[Pidato HUT Proklamasi, 1945]
• Dalam pidatoku, "Sekali Merdeka tetap Merdeka"! Kucetus semboyan:
"Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta KEMERDEKAAN".
[Pidato HUT Proklamasi, 1946]
• Dalam pidatoku Rawe-rawe rantas, malang-malang putung kutegaskan
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung ! Kita tidak mau. Dua kita
melawan! Sesudah Belanda menggempur .....mulailah ia dengan
politiknya devide et impera, politiknya memecah belah .....maka kita
bangsa Indonesia bersemboyan bersatu dan berkuasa.
[Pidato HUT Proklamasi, 1947]
• Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah
membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk
memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidak-kemerdekaanlah yang tidak
memberi jalan untuk memecahkan soal-soal .... Rumah kita dikepung,
rumah kita hendak dihancurkan ..... Bersatulah Bhinneka Tunggal Ika.
Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula.
[Pidato HUT Proklamasi, 1948]
• Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa
pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.
[Pidato HUT Proklamasi, 1949]
• Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya
sitiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah
pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan
sebanyak-banyaknya keringat.
[Pidato HUT Proklamasi, 1950]
• Adakanlah ko-ordinasi, adakanlah simponi yang seharmonisharmonisnya
antara kepentingan Beograd dan kepentingan umum, dan
janganlah kepentingan Beograd itu dimenangkan di atas kepentingan
umum.
[Pidato HUT Proklamasi, 1951]
• Kembali kepada jiwa Proklamasi .... kembali kepada sari-intinya yang
sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional ... kedua jiwa
ichlas...ketiga jiwa persatuan... keempat jiwa pembangunan.
[Pidato HUT Proklamasi, 1952]
• Bakat persatuan, bakat "Gotong Royong" yang memang telah berurat
berakar dalam jiwa Indonesia, ketambahan lagi daya penyatu yang
datang dari azas Pancasial.
[Pidato HUT Proklamasi, 1953]
• Dengan "Bhinneka Tunggal Ika" dan Pancasila, kita prinsipil dan
dengan perbuatan, berjuang terus melawan kolonialisme dan
imperialisme di mana saja.
[Pidato HUT Proklamasi, 1954]
• Sepuluh tahun telah kita Merdeka, tetapi masih ada saja orang-orang
yang dihinggapi minderwaardigheids complexen terhadap orang asing,
masih ada saja orang-orang yang lebih mengetahui dan mencintai
kultur Eropa dari pada kultur Beograd. Sehatkanlah kehidupan polltik
kita dengan jalan Pemilihan Umum itu. Engkau bisa, hei Rakyat, sebab
engkaulah yang menjadi hakim-bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan
Angkatan Perang, bukan Kabinet.
17 AGUTUS 1955]
• Dalam pidatoku: "Berilah isi kepada kehidupanmu" kutegaskan:
"Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani
bertindak revolusloner .... jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah
jalan..." kita adalah "fighting nation" yang tidak mengenal "yourney'send"
[Pidato HUT Proklamasi, 1956]
• Dalam pidatoku, "Satu Tahun Ketentuan "ku-kobar-kobarkan Revolusi
Indonesia benar-benar Revolusi Rakyat .... Tujuan kita masyarakat
adil-makmur, masyarakat Rakyat untuk Rakyat, karakteristik segenap
tindak tanduk perjuangan kita harus tetap karakteristik
Rakyat.demokrasi met leiderschap, demokrasi terpimpin.
[Pidato HUT Proklamasi, .1957 ]
• Dalam pidatoku, "Tahun Tantangan" kusimpulkan, "Rakyat 1958
sekarang sudah lebih sadar ....tidak lagi tak terang siapa kawan, siapa
lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat .....
siapa pemimpin sejati dan siapa pemimpin anteknya asing ....siapa
pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan. Dalam
masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih dari pada dimasamasa
yang lampau kita harus menggembleng kembali
Persatuan...Persatuan adalah tuntutan sejarah".
[Pidato HUT Proklamasi, 1958]
• Dalam pidatoku, "Penemuan Kembali Revolusi Kita" yang kemudian
diperkuat oleh seluruh nasion dan disahkan sebagai Manifesto Politik
Republik Indonesia kurumuskanlah "tiga segi" kerangka Revolusi kita
dan 5 (lima) persoalan-persoalan pokok Revolusi Indonesia yaltu:
Dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia, kekuatan
sosial Revolusi Indonesia, dan musuh-musuh Revolusi Indonesia.
[Pidato HUT Proklamasi, 1959 ]
• Dalam pidatoku. "Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit",
jalannya Revolusi kita kutandaskan perlunya dilaksanakan
"Landreform", perlunya dikonsolidasikan segenap kekuatan untuk
menghadapi imperialis-kolonialis.
[Pidato HUT Proklamasi, 1960]
• Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem"? Bangsa
yang zelfgenoegzaam? Bangsa yang angler memeteli burung perkutut
dan minum teh nastelgi ? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur
terhimpit dalam desak mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut
rebutan hidup! "verpletterd in het gedrang van mensen en volken,
dievechten om het bestaan".
[Pidato HUT Proklamasi, 1960 ]
• Dalam pidatoku Resopim kutegaskan perlunya meresapkan adilnya
Amanat Penderitaan Rakyat, agar meresapkan pula tanggung-jawab
terhadapnya serta mustahilnya perjuangan besar kita berhasil tanpa Tri
Tunggal Revolusi, Ideologi Nasional progressive dan pimpinan
Nasional.
[Pidato HUT Proklamasi, 1961]
• Dalam pidatoku, Tahun Kemenangan" kulancarkan gagasan: "maju
atas dasar kemajuan dan mekar atas dasar kemekaran" "selfpropelling
growth".
[Pidato HUT Proklamasi, 1961]
• Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri
Beograd tidak dapat berdiri langsung. A nation without faith cannot
stand.
[Pidato HUT Proklamasi, 1963]
• Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh,
bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati,
gemah ripah loh jinawi, tata tentram kertaraharja, otot kawat balung
wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo.
[Pidato HUT Proklamasi, 1963]
• Kita bangsa Indonesia, kita pemimpin-pemimpin Indonesia, tidak
boleh berhenti, tidak boleh duduk diam tersenyum simpul di atas
damparnya kemasyhuran dan damparnya jasa-jasa di masa. lampau.
Kita tidak boleh "teren op oud roem", tidak boleh hidup dari
kemasyhuran yang lewat, oleh karena jika kita "teren op oud roem"
kita nanti akan menjadi satu Bangsa yang "ngglenggem" satu bangsa
yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat.
[Pidato HUT Proklamasi, 1963 ]
• Terserahlah sejarah nanti menonjolkan atau tidak jasa-jasa atau
kemasyhuran-kemasyhuran itu.
[Pidato HUT Proklamasi, 1963]
• Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi pula
gitamu: "Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma
biamfusihim" "Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa, sebelum
bangsa itu merobah nasibnya.
[Pidato HUT Proklamasi, 1964]
• Berjuanglah, berusahalah, membanting tulang, memeras keringat,
mengulur-ngulurkan tenaga, aktip, dinamis, meraung, menggeledek,
mengguntur, dan selalu sungguh-sungguh, tanpa kemunafikan, ichlas
berkorban untuk cita-cita yang tinggi.
[Pidato HUT Proklamasi, 1964 ]
• Karena itu hai Bangsa Indonesia, janganlah kita mencari kepeloporan
mental pada orang lain. Carilah kepeloporan mental itu pada diri
Beograd. Carilah Beograd konsepsi-konsepsimu Beograd. Freedom to
be free ! Freedom to be free !
[Pidato HUT Proklamasi, 1964]
• Asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersatu dan
memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan gunung Semeru atau
gunung Kinibalu sekalipun.
[Pidato HUT Proklamasi, 1965]
• Abraham Lincoln, berkata: "one cannot escape history, orang tak dapat
meninggalkan sejarah", tetapi saya tambah : "Never leave history".
inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh
sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita
miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA
perjuangan kita di masa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah,
engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas
kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa
amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.
[Pidato HUT Proklamasi, 1966]
• Memberikan selfrespect kepada Bangsa Beograd, memberikan
selfconfidence kepada diri Bangsa Beograd, memberikan kesanggupan
untuk Berdikari, adalah mutlak perlu bagi tiap-tiap bangsa, di sudut
dunia manapun, di bawah kolong langit manapun.
[Pidato HUT Proklamasi, 1966]
• Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang
lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca-mata benggalanya
dari pada masa yang akan datang.
[Pidato HUT Proklamasi, 1966]
• Karena itu segenap jiwa ragaku berseru Kepada bangsaku Indonesia :
"Terlepas dari perbedaan apapun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan,
jagalah Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam
menginjak waktu yang akan datang, kita ini se-olah-olah adalah
buta.
[Pidato HUT Proklamasi, 1966]
• Apakah kelemahan kita : "Kelemahan jiwa kita ialah, kita kurang
percaya kepada diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa
penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, pada hal
kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong.
[Pidato HUT Proklamasi, 1966]
• Pancasila kecuali suatu Weltanschauung adalah alat pemersatu, dan
siapa tidak mengerti perlunya persatuan dan siapa tidak mengerti
bahwa kita hanya dapat merdeka dan berdiri tegak merdeka jikalau kita
bersatu, siapa yang tidak mengerti itu, tidak akan mengerti Panca Sila.
[Pancasila sebagai dasar negara ]
• Ada orang berkata, pada waktu Bung Karno mempropagandakan
Pancasila, pada waktu itu ia menggalinya kurang dalam. Tapi saya
terus terang katakan "Saya menggalinya dari empat saf : Saf pra Hindu,
saf Hindu, saf Islam dan saf Imperialis."
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 42 ]
• Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan,
Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman
sekarang ini, yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa
Indonesia.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 38]
• Bagaimana seluruh rakyat Indonesia pada garis besarnya ? Kalau pada
garis besarnya telah saya gogo, saya selami, rakyat Indonesia ini
percaya kepada Tuhan.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 49]
• Kalau Saudara tanya kepada saya personlijk apakah Bung Karno betulbetul
percaya kepada agama Islam. Saya percaya kepada adanya
Tuhan.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 48]
• Kita, sayapun adalah orang Islam, maaf beribu maaf, ke-Islaman saya
jauh belum sempurna, tetapi kalau saudara-saudara membuka saya
punya dada, dan mellhat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak
lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin
membela Islam dalam mufakat, dalam musyawarah. Dengan mufakat
kita perbaiki segala hal juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan
pembicaraan atas permusyawaratan dalam Badan Perwakilan Rakyat.
[Pidato lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945]
• 1. Pancasila, as the sublimation of Indonesia's unity of soul.
2. Pancasila, as the manifestation of the unity the Indonesian nation's
and territory.
3. Pancasila, as WELTANSCHAUUNG in the Indoneslan nation's way
of life, nationallty and internationally.
[Kata Pengantar Bung Karno dalam buku Lahirnya Pancasila, edisi
Bahasa Inggeris, 1 Juni 1964 hlm. 5]
• I am not a maker of Pancasila. I am not a creator of Pancasila. I merely
put into words some feelings existing among people, to which I gave
the name of Pancasila. I dug in the ground of the Indoneslan people
and I saw in the heart of the Indonesian nation that there were five
feelings there .... I formulated what we know to day as Pancasila. I
merely formulated it because these five feelings had already lived for
scores of years, even hundreds of years in our innen most hearts.
[Kata Pengantar Bung Karno dalam buku Lahirnya Pancasila, edisi
Bahasa Inggeris, 1 Juni 1964 hlm. 43]
• Saya berjuang sejak tahun 1918 sampai dengan 1945 sekarang ini
untuk Weltanschauung. Untuk membentuk Nasionalistis Indonesia,
untuk kebangsaan Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia yang hidup
di dalam peri kemanusiaan, untuk permusyawaratan, untuk socialrecht-
vaardigheid, untuk Ketuhanan. Pancasila itulah yang berkobarkobar
di dalam dada saya berpuluh tahun.
[Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945]
Tentang Sukarno
• .... di dalam cita-cita politikku, aku ini seorang nasionalis, dalam citacita
sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama
sekali theis. Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali ingin
mengabdi kepada Tuhan.
[Kepada bangsaku]
• Ya., saya tahu bahwa saya sering dicemooh orang yang tidak senang
kepada saya, bahwa saya adalah katanya "manusia perasan", gevoelsmens,
dan bahwa saya di dalam politik terlalu bersifat "manusia seni",
terlalu bersifat artis. Alangkah senangnya saya dengan cemoohan itu!
Saya mengucapkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa
saya dilahirkan dengan sifat-sifat gevoels-mens dan artis, dan saya
bangga bahwa Bangsa Indonesia pun adalah satu "Bangsa perasaan"
(satu gevoelsvolk) dan Bangsa Artis - satu artisenvolk.
[Pidato HUT Proklamasi, 1963]
• Semua orang tahu bahwa aku ini penggemar seni rupa, baik patung,
lukisan-lukisan maupun yang lain-lain. Aku lebih suka lukisan
Samudera yang gelombangnya memukul-mukul, menggebu-gebu, dari
pada lukisan sawah yang adem-ayem-tentrem, "kadyo siniram wayu
sewindu lawase".
[Pidato HUT Proklamasi, 1964]
• Oemar Said Tjokroaminoto berumur 63 tahun ketika aku datang ke
Surabaya. Pak Tjokro mengajarkan tentang apa dan siapa dia, bukan
tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadinya aku kelak.
[Bung Karno penyambung lidah rakyat, hlm. 52 ]
• Dr. Douwe Dekker, Setiabudi ketika umurnya sudah 50 tahun
menyampaikan kepada partainya N.I.P. "Umur saya semakin lanjut,
dan bila datang saatnya saya akan mati bahwa adalah kehendak saya
supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya. Anak muda ini, akan
menjadi Juru Selamat dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang".
[Bung Karno penyambung lidah rakyat, hlm. 67]
• Men kan niet onderwijzen wat men wil, men kan niet, onderwijzen wat
men weet, men kan alleen onderwijzen wat men is.
Orang tidak bisa mengajarkan apa yang ia mau, orang tidak bisa
mengajarkan apa yang ia tahu, orang hanya bisa mengajarkan apa ia
adanya.
[Di bawah bendera revolusi, hlm. 514 ]
• Demokrasi kita harus kita jalankan adalah Demokrasi Indonesia,
membawa kepribadian Indonesia.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 105
• Parlementaire Demokrasi adalah ideologi politik dari pada Kapitalisme
yang sedang naik.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 91 ]
• Aku bersemboyan; Biar melati dan mawar dan kenanga dan cempaka
dan semua bunga mekar bersama di taman sari Indonesia.
[Pidato HUT Proklamasi, 1964]
• Ramalan kedua dari Pak Tjokro, satu malam di tengah keluarga, die
berbicara, "Ikutilah anak ini dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi
Pemimpin Besar Kita":
[Bung Karno penyambung lidah rakyat, hlm. 68]
• Pada satu waktu saya sampai kepada suatu saat memerlukan satu nama
umum bagi semua yang kecil-kecil ini. Ya buruh, ya tani, ya pegawai,
ya nelayan dan lain-lainnya, semuanya tidak ada yang besar, melainkan
kecil-kecil semuanya. Lantas saya beri nama kepada semuanya itu
Marhaen!.
[Pancasila sebagai dasar negara hlm. 25 ]
• Ilmu hanyalah ilmu sejati, jikalau ilmu itu ialah untuk membawa
kebahagiaan kepada manusia.
[Menggali api Pancasila, hlm. 15]
• Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat,
aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.
[Menggali api Pancasila, hlm. 11]
• Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, nafasku akan
berhenti, apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata
yang melahirkanku.
[Bung Karno penyambung lidah rakyat, hlm. 13 ]
• Dan saya sadar sampai sekarang ini, "the service of freedom is a
deathless service". Badan manusia bisa hancur ...., tapi ia punya
"service of freedom" tidak bisa ditembak mati.
[Kata-Kata Pribadi Presidan Sukarno Dalam Sidang MPRS Ke-IV
1966]
Tentang wanita
• Tetapi pikiran saya melayang, melayang memikirkan satu soal-soal W
a n i t a. Kemerdekaan! Bilakah Sarinah-Sarinah mendapat
kemerdekaan! Tetapi, ya kemerdekaan yang bagaimana? Kemerdekaan
yang di kehendaki oleh pergerakan feminismekah, yang hendak,
menyamaratakan perempuan dalam segala hal dengan laki-laki?.
Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum?
Kemerdekaan ala Kollontay?
[Sarinah, hlm. 8]
• Sesungguhnya kita harus belajar insaf, bahwa soal masyarakat dan
Negara adalah soal laki-laki dan perempuan, soal perempuan dan lakilaki.
Dan soal perempuan adalah suatu soal masyarakat dan negara.
[Sarinah, hlm. 14]
• Dan kemanusiaan akan terus pincang, selama saf yang sstu menindas
saf yang lain. Harmoni hanya dapat tercapai, kalau tidak ada saf satu di
atas yang lain, tetapi dua "saf" itu sama derajat, berjajar yang satu
dengan yang lain, yang satu memperkuat yang lain. Tetapi masingmasing
menurut kodratnya Beograd.
[Sarinah, hlm. 15]
• Kaum laki-laki marilah kita memikirkan soal ini. Dan marilah kita ikut
memikirkan soal perempuan sebab di dalam masyarakat sekarang ini,
saya melihat bahwa kadang-kadang kaum laki-laki terlalu main Yang
Dipertuan di atas soal-soal yang mengenai perempuan.
[Sarinah, hlm. 14]
• Tiada masyarakat manusia satupun dapat berkemajuan, kalau lakiperempuan
yang satu tidak membawa yang lain, karenanya janganlah
masyarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat maju subur, kalau tidak
dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula.
[Sarinah, hlm. 17]
• Janganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam suatu kultur yang
sewajar-wajarnya kultur, kalau perempuan dihinakan di dalam kultur
itu.
[Sarinah, hlm. 17]
• Atau benar pula perkataan Baba O´llah, yang menulis bahwa: "laki-laki
dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya se-ekor burung. Jika dua
sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai kepuncak
yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka
tak dapatlah terbang burung itu sama sekali."
[Sarinah, hlm. 17/18]
• Sungguh benar perkataan Charles Fourier kalau ia mengatakan: "bahwa
tinggi rendahnya tingkat kemajuan suatu masyarakat, adalah ditetapkan
oleh tinggi rendahnya tingkat kedudukan perempuan di dalam
masyarakat itu".
[Sarinah, hlm. 17]
• Manakala patriarchat sekarang ini membawa ketidak adilan masyarakat
kepada kaum perempuan, maka Matriarchat membawa ketidak adilanmasyarakat
kepada kaum laki-laki. Masyarakat tidak terdiri dari kaum
laki-laki saja, dan tidak pula dari kaum perempuan saja.
Masyarakat adalah terdiri dari kaum laki-laki dan perempuan, dari
kaum perempuan dan kaum laki-laki. Tak sehatlah masyarakat itu,
manakala salah satu pihak menindas kepada yang lain, tak peduli fihak
mana yang menindas dan tak peduli fihak mana yang tertindas.
Masyarakat itu hanyalah sehat, manakala ada perimbangan hak dan
perlakuan antara kaum laki-laki dan perempuan yang sama tengahnya,
sama beratnya, sama adlinya.
[Sarinah, hlm. 41]
• Saya bukan pecinta matriachat, saya adalah pecinta patriarchat bukan
karena saya seorang laki- laki, akan tetapi ialah karena kodrat alam
menetapkan patriarchat lebih utama dari Matriarchat. Kodrat
menetapkan hukum keturunan lebih selamat dengan hukum perbapaan.
[Sarinah, hlm. 41]
• Saya pecinta patriarchat, tetapi hendaklah patriarchat, itu satu
patriarchat yang adil, satu patriarchat yang tidak menindas kepada
kaum perempuan, satu patriarchat yang tidak mengekses kepada
kezaliman laki-laki di atas kaum perempuan. Satu patriarchat yang
"parental".
[Sarinah, hlm. 41]
• Maha bijaksana Allah dan Nabi yang menetapkan patriarchat sebagai
sistem kemasyarakatan yang cocok dengan kodrat alam, tetapi maha
piciklah sesuatu orang yang tak mengerti akan "h i k m a h" patriarchat
itu, dan lantas membuat agama menjadi satu alat kezaliman dan
penindasan.
[Sarinah, hlm. 42]
• Laki-laki hanya terjepit sebagai machluk-sosial saja di dalam
masyarakat sekarang ini, tetapi perempuan aadalah terjepit sebagai
machluk sosial dan sebagai machluk per-seksean.
[Sarinah, hlm. 24/25]
• Bagaimanakan masyarakat yang tuan cita-citakan? Saya menjawab: "di
dalam masyarakat yang saya cita- citakan itu tiap-tiap orang laki-laki
bisa mendapat isteri, tiap-tiap orang perempuan bisa mendapat suami.
Ini kedengarannya mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa, atau
mengangkat pundak, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan
mengingat keterangan saya di atas tadi, dan kemudian katakanlah, apa
saya tidak benar? di dalam masyarakat yang "struggle for life" tidak
seberat sekarang ini, dan di mana pernikahan selalu mungkin, niscaya
"persundalan" boleh dikatakan lenyap, prostitusi menjadi luar biasa dan
bukan suatu kanker sosial yang permanent yang banyak-korbannya.
[Sarinah, hlm. 23/24]
• Soal perempuan bukanlah soal buat perempuan saja, tetapi soal
masyarakat, soal perempuan dan laki-laki. Dan sungguh soal
masyarakat dan Negara yang amat penting.
[Sarinah, hlm. 15]
• Sejarah perempuan adalah bergandengan dengan laki-laki, soal
perempuan tak dapat dipisahkan dari soal laki-laki.
[Sarinah, hlm. 40]
• Bukan lagi "kepribadiannya" wanita yang kini menentukan hidupnya,
tetapi kecantikannya, kejelitaan, "sex-appealnya". Keelokannya itu kini
menjadi senjata ekonomi, fungsi kelaminnya itu menjadi fungsi
ekonomi.
[Sarinah, hlm. 67]
• Tiga sifat/hal yang dituntut dari seorang wanita yang sejati lalah: ya
ibu, ya isteri, ya kawan seperjuangan (kawan hidup di dalam
masyarakat). Jikalau wanita bisa mengumpulkan tiga hal ini, baru
dapat disebut wanita sempurna.
[Pidato Hari Ibu 22 Desember 1960]
• Wanita itu, seperti kata pemimpin wanita Henriete Roland Holst van
der Schalk: "Wanita itu seperti seekor keledai yang menarik dua
kereta". Bebannya dua, bukan satu. Beban di masyarakat, dan beban di
rumah tangga. Wanita tidak bisa menjadi manusia masyarakat saja.
Wanitapun ingin menjadi manusia rumah- tangga, ingin menjadi
manusia ibu, ingin menjadi manusia-isteri."
[Pidato Hari Ibu 22 Desember 1960]
• Wahai wanita Indonesia, buat engkaulah kitabku, buat engkaulah aku
goyangkan pena, kadang-kadang di bawah sinar lilin sampai jauh di
waktu malam! Sadarlah, bangunlah, bangkitlah, berjuanglah menurut
petunjuk-petunjuk yang kuberikan itu. Berjuanglah, bangkitlah
sehebat-hebatnya, sebagai tadipun telah kukatakan, "tiada orang lain
dapat menolong wanita, melainkan wanita Beograd."
[Sarinah, hlm. 326]
• Janganlah tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, jangan
juga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tetapi cocokkanlah
semua barang dengan kodratnya. Inilah kata perakataan Ki Hadjar
Dewantara.
[Sarinah, hlm. 4]
• Orang Inggeris ada mempunyai syair yang bunyinya: Man works from
rise to set-of sun. Woman's work is never done. Laki-laki kerja dari
matahari terbit sampai terbenam. Perempuan kerja tiada hentinya siang
dan malam. Ini syair adalah jitu sekali buat menggambarkan beban
perempuan itu.
[Sarinah, hlm. 77]
• Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang ! Sekarang ikutlah, sertamutlak
dalam usaha menyelamatkan Republik dan nanti jika Republik
sudah selamat, ikutlah serta-mutlak dalam usaha menyusun Negara
Nasional.
[Sarinah, hlm. 328]
• Janganlah ketinggalan dalam Revolusi Nasional ini dari awal sampai
akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun
masyarakat keadilan-sosial dan kesejahteraan-sosial. di dalam
masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti
menjadi wanita yang Merdeka!.
[Sarinah, hlm. 329]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar